Langit biru dengan cahaya matahari yg begitu teriknya menyinari rambutku. Saat itu aku baru saja keluar dari gedung sekolah. Teriknya matahari seakan-akan menyuruhku untuk mengambil botol minum di dalam tasku. Air dalam botol minumku ternyata tak cukup untuk meredakan rasa haus di tenggorokan ku. Aku ingin segera membeli sebotol air mineral. Namun, tak ku sadari ada sesosok lelaki tinggi, memakai sweater biru dongker yg datang menghampiriku. Aku tak dapat melihat dengan jelas wajahnya karena silaunya cahaya matahari. Pria itu sekarang tepat berdiri di hadapanku sambil meyodorkan sebotol air mineral kepadaku. Yup! Dia adalah pria yg ku taksir. Seketika aku merasa kalau ini mimpi. Namun, teriknya matahari menyadarkan ku bahwa ini bukan mimpi. Seseorang yg ku cintai dari jauh, sekarang menghampiriku dengan membawa sebuah air mineral. Apakah ini suatu tanda kalau dia juga mencintaiku? Tatapan matanya membuat suasana panas menjadi lebih sejuk. Aku menerima air mineral yg dia berikan padaku. Kata terima kasih yg terucap dari mulutku adalah awal percakapan kami dimulai.
Hari demi hari terasa begitu cepat. Dalam waktu 3 hari, kami sudah saling mengenal. Kami memiliki banyak kesamaan. Semua terasa manis saat dia mengucapkan kata 'sayang' saat kami saling berbicang di telepon. Aku tak tahu kata itu sengaja dia ucapkan atau hanya sebagian leluconnya saja. Semenjak kami sering berbincang melalui handphone, hubungan kami semakin dekat. Kata 'sayang' itu semankin sering dia gunakan. Aku semakin tak mengerti apa yg ada di benaknya.
Semakin hari semakin dekat. Sampailah pada waktunya. Dia mengajak ku bertemu di sebuah kedai kopi. Aku yg datang lebih awal mencari tempat duduk untuk kami berdua. Mata ku tertuju pada sebuah sofa biru muda dengan sebuah meja berhias bunga. Tanpa berpikir panjang aku menghampiri sofa tersebut. Setelah sekitar 10 menit aku menunggu kedatangan nya akhirnya dia datang dengan memakai kaos berwarna hijau lumut. Aku merasa hari ini akan terjadi sesuatu. Kami pun memesai dua cangkir kopi hangat. Setelah kurang lebih 30 menit kami berbincang-bincang, saat itu pun tiba. Dia mengutarakan perasaannya kepadaku. Aku merasa hati ini berdebar tak karuan. Darah ku terasa mengalir lebih cepat dari manusia normal. Nafas ku seperti terengah-engah. Aku tak tahu harus menjawab apa.
Sekarang kami layaknya anak muda yg sedang menikmati masa mudanya. Aku sadar saat awal berjumpa kami memang sudah saling mecintai. Satu hal membuat ku paham bahwa : Aku hanya membutuhkan satu detik untuk mencintaimu,sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar